Tipologi Pengetahuan Manusia

Ahmad bin Khalil sebagaimana yang dikutip oleh imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumud-Dinnya menyebutkan bahwa ada empat tipologi pengetahuan manusia. Pertama, ada orang yang tahu bahwa dirinya tahu. Kedua, ada orang yang tahu, tapi dirinya tidak tahu, bahwa dirinya tahu. Ketiga, ada orang yang tidak tahu, tapi dirinya tahu, bahwa dirinya tidak tahu. Keempat, ada orang yang tidak tahu, tapi dirinya tidak tahu, bahwa dirinya tidak tahu.

Adapun yang dimaksud dengan tipologi pertama adalah orang berilmu. Orang seperti ini menempati kedudukan yang terpuji. Pujian ini langsung datang dari nash al-Qur’an dan al-Hadits.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berimu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui dengan apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah: 11)

Tafsir ayat di atas menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman tapi berilmu daripada orang yang beriman tapi tidak berilmu. Hal ini sesai dengan atsar berikut ini:

عَنْ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِىَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى فَقَالَ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ».

Dari Amir bin Watsilah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits berjumpa dengan Umar di ‘Usfan [dikenal juga dengan Wadi Usfan, pent] dan Umar mengangkat Nafi’ menjadi Gurbernur Makkah. Umar bertanya, “Siapa yang akan kamu angkat untuk menjadi pemimpin di Wadi tersebut?”, Nafi’ Menjawab, “Ibnu Abza”. Umar bertanya lagi, “Siapa itu Ibnu Abza?”, dia menjwab, “Salah seorang mantan hamba sahaya”. Umar bertanya lagi, “Kamu mengangkat mantan hamba sahaya sebagai pemimpin mereka?!”, dia menjawab, “Karena Ibnu Abza adalah seorang penghafal qur’an dan menguasai ilmu fara’idh”. Umar berkata, “Adapun Nabi kalian -shallal-Llahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda, “Dengan al-Qur’an ini, sungguh Allah telah mengangkat derajat suatu kaum dan dengannya pula kaum yang lain menjadi rendah”. (Shahih Muslim no. 1934)

Sedangkan tipologi kedua adalah orang yang berilmu tapi dia tidak sadar akan potensinya. Orang yang seperti ini harus disadarkan bahwa dirinya mempunyai bakat dan potensi. Selain itu, jika dia seorang pelajar atau penuntut ilmu, maka mesti diarahkan agar menjadi seorang ulama atau intelektual muslim. Misalnya seperti imam al-Bukhari, sejak kecil sudah terlihat kecakapan dalam bidang hadis. Bukan hanya sekedar mampu menghafal banyak hadis dengan mudah, tapi juga mampu mengomentari dan mengkritik hadis. Padahal mengkritik hadis (naqdul hadits) adalah pekerjaan para sarjana muslim, yang sebenarnya belum cukup umur bagi Imam al-Bukhari yang masih kecil untuk masuk wilayah itu.

Melihat potensi dan kecerdasan imam al-Bukhari di atas rata-rata terebut, maka gurunya Ibnu Rahawaih memotivasinya agar mengarang kitab hadis yang berisikan hadis-hadis shahih.

وقوى عزمه على ذلك ما سمعه من أستاذه أمير المؤمنين في الحديث والفقه إسحاق بن إبراهيم الحنظلي المعروف بابن راهويه وذلك فيما أخبرنا أبو العباس أحمد بن عمر اللؤلؤي عن الحافظ أبي الحجاج المزي أخبرنا يوسف بن يعقوب أخبرنا أبو اليمن الكندي أخبرنا أبو منصور القزاز أخبرنا الحافظ أبو بكر الخطيب أخبرني محمد بن أحمد بن يعقوب أخبرنا محمد بن نعيم سمعت خلف بن محمد البخاري بها يقول سمعت إبراهيم بن معقل النسفي يقول قال أبو عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري كنا عند إسحاق بن راهويه فقال لو جمعتم كتابا مختصرا لصحيح سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فوقع ذلك في قلبي فأخذت في جمع الجامع الصحيح

Semakin kuat tekad al-Bukhari untuk mengarang kitab hadis shahih setelah mendengar gurunya -amirul mu’mininnya di bidang hadis dan fikih- yaitu Ishak bin Ibrahim al-Handzali yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Rahawaih. Peristiwa itu sebagaimana yang dikabarkan kepada kami oleh Abul Abbas Ahmad bin Umar al-Lu’lu dari al-Hafidz Abul Hajaj al-Mizzi; telah dikabarkan kepada kami oleh Yusuf bin Ya’kub; telah dikabarkan kepada kami oleh Abul Yaman al-Kindi; telah dikabarkan kepada kami oleh Abu Manshur al-Qazaz; telah dikabarkan kepada kami oleh al-Hafidz Abu Bakar al-Khatib; telah dikabarkan kepadaku oleh Muhammad bin Ahmad bin Ya’kub; telah dibakarkan kepada kami oleh Muhammad bin Nu’aim; aku mendengar Khalaf bin Muhammad al-Bukhari berkata tentang ceritanya, “Aku mendengar Ibrahim bin Ma’qil an-Nasafi berkata, “Telah berkata Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, “Dulu ketika kami berada bersama Ishaq bin Rahawaih beliau berkata, “Kalau saja kalian mengarang satu kitab yang ringkas yang khusus yang menghimpun sunnah Rasulullah -shallal-Llahu ‘alaihi wa sallam- yang shahih”. Imam Bukhari berkata, “Maka perkataanya itu membekas di dalam hatiku hingga kau mulailah menghimpun hadis-hadis shahih”. [Hadyus-Syari]

Maka dengan arahan dari gurunya sehingga lahirlah kitab hadis yang hanya berisi hadis-hadis shahih saja, yaitu kitab Shahih al-Bukhari.

Tipologi yang ketiga bisa disebut juga dengan para penuntut ilmu. Mengenai tipe yang ketiga ini, al-Qur’an dan al-Hadis memberikan motivasi akan hal itu.


وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya,” (QS. At-Taubah: 122).

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا ، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ ، وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا ، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan dia kepada jalan menuju surga. Sungguh para malaikat akan meletakkan sayapnya karena merasa ridha terhadap penuntut ilmu. Penuntut ilmu itu akan dimintaampunkan oleh penduduk langit dan bumi bahkan hingga ikan paus di dalam air sekalipun. Sungguh keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan ahli ibadah bagaikan bulan di atas bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi; para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Baransiapa yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang sangat banyak”. (Sunan Ibnu Majah no. 223)

Dan masih banyak lagi dalil-dalil qur’an dan hadis yang memotivasi untuk menjadi para penuntut ilmu. Maka tidak heran jika pada kekhalifahan Bani Abbasiyah banyak sekali melahirkan para ulama yang melahirkan karya saintis, seperti Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai bapak Kimia; al-Khawarizmi yang dikenal sebagai ulama yang pakar di bidang matematika, astronomi, dan geografi; dan Ibnu Sina sebagai ulama yang pakar di bidang ilmu kedokteran.

Lahirnya para ulama yang ensiklopedis yang menguasai ilmu pengetahuan merupakan bukti bahwa secara historis bahwa di dalam Islam tidak pernah terjadi benturan dan konfrontatif antara agama dan pengetahuan. Berbeda dengan barat yang mengalami traumatik sejarah antara benturan agama dan ilmu pengetahuan sehingga lahirlah gerakan sekularisme; gerakan menceraikan antara agama dan pengetahuan; dan gerakan menumbuhkan kebencian antara agama dan pengetahuan.

Sedangkan tipe terkhir, yaitu orang yang tidak tahu tapi dirinya tidak bahwa dirinya tidak tahu. Orang sejenis ini secara simplistis disebut dengan si ‘dungu’.

Saat orang-orang munafik diperintahkan untuk beriman kepada Allah sebagaimana berimannya para sahabat, mereka dengan sombongnya sambil merendahkan para sahabat dengan menganggap bodoh kepada mereka.

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا كَمَآ اٰمَنَ النَّاسُ قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ كَمَآ اٰمَنَ السُّفَهَاۤءُ ۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاۤءُ وَلٰكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ

Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman,” mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang picik akalnya itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang picik akalnya, tetapi mereka tidak tahu.

Padahal, kedunguan dan kebodohan itu ada pada diri mereka yang enggan menerima hidayah dan petunjuk dari Allah Ta’ala.

{ألا إِنَّهُمْ هُمُ السفهآء ولكن لاَّ يَعْلَمُونَ} أي ألا إِنهم هم السفهاء حقاً، لأن من ركب متن الباطل كان سفيهاً بلا امتراء، ولكن لا يعلمون بحالهم في الضلالة والجهل، وذلك أبلغ في العمى، والبعد عن الهدى.

“Ingatlah bahwa merekalah yang bodoh akan tetapi mereka tidak menyadarinya” maksudnya adalah bahwa yang sebenarnya bodoh adalah mereka. Karena barangsia yang melakukan kebatilan maka dia itu bodoh tanpa diragukan lagi. Tapi mereka tidak menyadari kondisi mereka yang sesat lagi bodoh. Yang demikian itu adalah puncaknya kebutaan dan jauhnya dari jalan hidayah. (Shafwatu at-Tafasir)

Demikianlah klasifikasi mengenai tipologis pengetahuan manusia sebagaimana yang telah dijelaskan. Dan berikut adalah kutipan lansung dari ucapan al-Khalil bin Ahmad:

وقال الخليل بن أحمد الرجال أربعة رجل يدري ويدري أنه يدري فذلك عالم فاتبعوه ورجل يدري ولا يدري أنه يدري فذلك نائم فأيقظوه ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذلك مسترشد فأرشدوه ورجل لا يدري ولا يدري أنه لا يدري فذلك جاهل فارفضوه

Al-Khalil bin Ahmad pernah berkata bahwa seseorang itu ada empat kategori. Pertama, orang yang tahu bahwa dia tahu, maka itu adalah orang berilmu maka ikutilah. Kedua, orang yang tahu dan dia tidak tahu bahwa dirinya tahu, maka orang itu orang yang tidur, maka bangunkanlah. Ketiga, orang yang tidak tahu bahwa dia tahu bahwa dirinya tidak tahu, maka itu adalah orang yang meminta petunjuk maka berilah petunjuk. Keempat, orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, maka itulah orang bodoh maka jauhilah. (Ihya ‘Ulumud-Din)

Scroll to Top