Setiap hari kita menyaksikan dunia yang terus mengalami perkembangan sangat pesat. Teknologi, informasi, dan tantangan global terus berganti dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini mengisyaratkan jika pengembangan ilmu pengetahuan sangat pesat sehingga setiap bangsa berlomba-lomba untuk mencapainya. Namun di balik fenomena itu, ada sebuah pertanyaan yang mesti direnungkan bersama; Di manakah posisi umat Islam? Apakah kita menjadi pelopor perubahan, atau hanya menjadi penonton yang pasrah karena tertinggal?
Sebagai agama yang paling sempurna, Islam mengajarkan umatnya untuk terus mengoreksi diri dan beradaptasi dengan perkembangan zaman sebagai wujud konsep khalifatullah fil ard. Akan tetapi pada faktanya, posisi umat Islam dalam bidang pengetahuan masih tertinggal dari beberapa bangsa dan peradaban lain. Hal inilah yang menjadi perhatian beberapa cendikiawan muslim abad ke 18 sampai ke 20 sehingga mereka menawarkan beragam solusi agar umat islam bisa bangkit dan tidak tertinggal -atau tertindas- dari bangsa lain.
Salah satu ulama terkemuka yang ikut menyuarakan sekaligus memberikan solusi agar umat Islam bisa bangkit adalah Yusuf Al-Qardhawi. Menurutnya kemunduran umat Islam terjadi karena mereka keliru dalam menempatkan prioritas. Ia juga memberikan kritik internal kepada umat Islam yang memprioritaskan hal-hal yang sia-sia dibandingkan memajukan ilmu pengetahuan. Dalam kitabnya, Fiqh Al-Awlawiyyat Yusuf Qardhawi mengatakan;
Kita dapat menemukan di setiap negara Arab dan Islam berbagai perbedaan yang sangat dahsyat, yaitu perkara-perkara yang berkenaan dengan dunia seni dan hiburan senantiasa diprioritaskan dan didahulukan atas persoalan yang menyangkut ilmu pengetahuan dan pendidikan.” (Fiqh Al-Awlawiyyat, hlm. 13). Jadi menurut al-Qardhawi, penyebab kemunduran umat Islam adalah karena ketiadaan ilmu dan pendidikan juga kesalahan umat dalam menentukan prioritas.
Apa yang diungkapkan oleh al-Qardhawi sebenarnya selaras dengan hadis nabi yang menyebut jika mencari bukanlah hobi atau pilihan, melainkan sebuah kewajiban mengikat yang mesti diprioritaskan oleh setiap individu Muslim. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist :
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Sulaiman, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Katsir bin Syinzhir dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.'” (HR. Ibnu Majah No. 224, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Para ulama telah memberikan penjelasan yang mendalam mengenai hadis ini. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin dan para ulama lainnya menjelaskan bahwa “ilmu” di sana terutama merujuk pada ilmu fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu) adalah ilmu yang berkaitan langsung dengan kewajiban seorang hamba yang mencakup pertama, Ilmu Tauhid yaitu sebuah ilmu untuk mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, dan menjauhkan diri dari kesyirikan. Kedua, Ilmu Fikih Ibadah untuk mengenal syariat berupa tata cara bersuci, salat, puasa, dan zakat dan sebagainya. Ketiga, Ilmu Tasawuf/Akhlak untuk mengetahui penyakit-penyakit hati seperti sombong, riya, dan hasad, serta cara mengobatinya.
Hadist tersebut berisi perintah untuk menuntut ilmu karena dapat memperkuat fondasi umat islam. Seandainya kita mengabaikan perintah tersebut berarti kita membiarkan diri dan umat menuju kelemahan. Ketika setiap individu dalam umat ini memandang ilmu sebagai kewajiban, maka saat itulah kita sedang membangun barisan pertahanan terkuat dari keterbelakangan peradaban.
Cendikiawan lain yang juga menyoroti penyebab kemunduran umat Islam adalah Syed Naquib al-Attas. Bukan hanya mempersoalkan umat Islam yang tidak peduli terhadap ilmu pengetahuan, lebih jauh Al-Attas menganggap jika problem umat Islam saat ini adalah cara memahami ilmu yang salah. Sebagai efek domino dari ilmu yang salah, muncul pemimpin-pemimpin yang salah juga karena memakai ilmu yang salah sebagai fondasi dalam menentukan sikap dan kebijakannya. Dua pendapat cendikiawan di atas menjadi bukti jika umat Islam baru bisa bangkit dari ketertinggalan apabila mereka memprioritaskan ilmu pengetahuan (yang benar) ketimbang yang lainnya.
Ilmu Menyebabkan Kemudahan
Meski fokus pada keilmuan adalah solusi kebangkitan, namun sudah menjadi rahasia umum jika mencari ilmu adalah jalan yang susah, lelah dan menghabiskan banyak tenaga, waktu dan fikiran. Atas dasar inilah terdapat sebuah riwayat yang menjamin kemudahan bagi siapapun yang mencari ilmu, meskipun secara dzahir tampak sulit. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ… وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-‘Ala’ Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abi Burdah dari Abu Musa dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘…Dan siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.'” (HR. Muslim No. 2699)
Menurut Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, makna “menempuh jalan” dalam hadis ini mencakup jalan fisik, seperti berjalan kaki menuju majelis ilmu, serta jalan non-fisik (maknawi), seperti usaha membaca, menghafal, dan merenungkan ilmu termasuk biaya dalam prosesnya. Adapun balasan Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, memiliki dua makna utama: (1) Di dunia, ilmu yang ia pelajari menjadi sebab Allah memberinya hidayah dan taufik untuk melakukan amal saleh, yang mana amal saleh itulah jalan menuju surga; dan (2) Di akhirat, Allah akan memudahkan jalannya secara hakiki saat melewati Sirath (jembatan) kelak. Dengan demikian, menuntut ilmu adalah sebab utama untuk meraih petunjuk di dunia dan kemudahan di akhirat.
Selain diberikan kemudahan, karena proses mencari ilmu itu sulit, Islam sangat memuliakan bagi mereka yang berjuang dengan menuntut ilmu. Mereka tidak hanya dihormati, tetapi juga ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, bahkan digambarkan sebagai penerang bagi seluruh umat. Rasulullah SAW bersabsa :
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: …وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya: “Dari Abu Ad-Darda’, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘…Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim (orang yang berilmu) atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat besar.'” (HR. Abu Dawud No. 3641 & At-Tirmidzi No. 2682)
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam menjelaskan bahwa keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan cahaya bulan purnama yang menerangi seluruh langit dibanding bintang-bintang kecil, karena manfaat ilmu tidak hanya terbatas pada diri sendiri, tetapi menyinari dan membimbing umat menuju kebenaran. Para ulama disebut sebagai pewaris para nabi karena mereka mewarisi tugas kenabian dalam menyebarkan ilmu dan petunjuk, bukan harta benda. Maka, siapa pun yang menuntut dan mengamalkan ilmu syar‘i dengan niat yang benar, ia telah mengambil bagian besar dari warisan para nabi dan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah.
Ilmu Sebagai Investasi yang Abadi
Sisi positif lain dari prioritas fokus umat Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan adalah sifat dari pengetahuan yang merupakan sebuah investasi yang dampaknya abadi. Ia adalah warisan yang akan terus mengalirkan manfaat, menjaga generasi-generasi mendatang agar tidak kembali tertinggal. Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang tiga amalan yang pahalanya tidak akan terputus:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ – هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ – عَنِ الْعَلاَءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– قَالَ « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr, mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il (yaitu Ibnu Ja’far) dari Al-‘Ala’ dari ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.'” (HR. Muslim No. 1631)
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan luasnya rahmat Allah, karena meskipun amal manusia terputus setelah kematian, Allah masih memberikan pahala melalui tiga jalan yang menjadi sebab terus mengalirnya kebaikan. “Ṣadaqah jāriyah” mencakup segala bentuk sedekah yang manfaatnya berkelanjutan, seperti membangun masjid atau sumur. “Ilmu yang bermanfaat” adalah ilmu agama atau pengetahuan yang memberi manfaat bagi orang lain, baik berupa ajaran, tulisan, atau karya. Sedangkan “anak saleh yang mendoakan” adalah buah pendidikan dan amal baik orang tuanya, yang dengan doanya menambah pahala bagi mereka di alam kubur. Hadis ini menegaskan pentingnya amal yang berkelanjutan dan warisan kebaikan yang tidak terputus oleh kematian.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang kita ajarkan kepada orang lain, yang kita tulis dalam sebuah buku, atau yang kita gunakan untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Seorang guru yang ilmunya terus diamalkan murid-muridnya, seorang penulis yang bukunya terus mencerahkan pembaca, seorang penemu yang karyanya terus membantu manusia; mereka semua sedang memanen pahala tanpa henti. Inilah warisan sejati yang akan menjaga generasi-generasi mendatang agar tidak kembali tertinggal.
Melihat betapa agungnya kedudukan ilmu dalam Islam, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk bermalas-malasan. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga kita, dan komunitas kita, Secara Individu, sisihkan waktu setiap hari, walau hanya 15 menit, untuk membaca dan belajar. Dalam Keluarga, ciptakan budaya cinta ilmu. Hadiahkan buku, bukan hanya mainan. Diskusikan pengetahuan di meja makan. Di Masjid dan Komunitas, hidupkan kembali kajian-kajian ilmu, bentuk lingkaran-lingkaran belajar, dan jadikan masjid sebagai pusat pencerahan umat.

