Melibatkan Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

Melibatkan Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali dihadapkan dengan berbagai macam pemasalahan ataupun persoalan. Karena banyaknya persoalan-persoalan di kehidupan ini, manusia sering kali terlena dan lupa jika kehidupan ini sudah ada yang mengatur. Dalam bukunya Tasawwuf Modern, terdapat sebuah kutipan bagus dari Buya Hamka, “Manusia tidak perlu takut menghadapi apapun persoalan yang datang karena hidup manusia itu sudah ditentukan tidak kurang dan lebih”. Apa yang diucapkan oleh Hamka tersebut memberikan sebuah indikasi jika dalam kehidupan ini yang terpenting adalah kesadaran akan adanya kehadiran Tuhan dalam setiap langkah. Jika seperti itu manusia tidak akan terlena dan merasa sendiri dalam menjalani kehidupannya.

Terlebih sebagai seorang muslim, sudah semestinya melibatkan allah dalam aktivitas sehari-hari kita. Karena dengan melibatkan Allah dalam segala urusan, sekecil apa pun itu, bisa bernilai ibadah. Jadi, melibatkan Allah dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya berbicara tentang kebutuhan manusia akan Tuhannya, tetapi lebih jauh dari itu juga berbicara tentang nilai ibadah yang terkandung di dalamnya sehingga ibadah bukan hanya dipahami sebagai mahdah saja seperti shalat atau puasa tetapi juga mencakup pada semua urusan-urusan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Dalam Q.S Fathir:15 Allah sendiri menjelaskan jika manusia akan selalu butuh dan bergantung kepada Allah SWT dikarenakan posisi manusia sebagai hamba yang miskin, papa, lemah sedangkan Allah sebagai Khaliq Yang Maha Segalanya, Allah SWT berfirman;

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥

Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.

Dalan tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menjelaskan bahwa semua manusia membutuhkan Allah dalam segala gerak dan diamnya, sedangkan Allah SWT tidak memerlukan apapun dari manusia. Allah itu maha kaya, tiada sekutu baginya dalam sifat-sifatnya juga dalam semua apa yang ditakdirkan dan yang disyariatkan Ibnu Katsir menyebut:

يُخْبِرُ تَعَالَى بِغَنَائِهِ عَمَّا سِوَاهُ، وَبِافْتِقَارِ الْمَخْلُوقَاتِ كُلِّهَا إِلَيْهِ، وَتَذَلُّلِهَا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ} أَيْ: هُمْ مُحْتَاجُونَ إِلَيْهِ فِي جَمِيعِ الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ، وَهُوَ الْغَنِيُّ عَنْهُمْ بِالذَّاتِ؛ وَلِهَذَا قَالَ: {وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ}

Allah Ta‘ala mengabarkan tentang kekayaan-Nya (ketidakbutuhan-Nya) dari selain-Nya, serta tentang kebutuhan seluruh makhluk kepada-Nya dan ketundukan mereka di hadapan-Nya. Maka Dia berfirman: “Wahai manusia, kalian semua adalah orang-orang yang fakir (butuh) kepada Allah,” yakni mereka membutuhkan-Nya dalam seluruh gerak dan diam mereka. Dan Dia Maha Kaya dari mereka secara dzat-Nya. Oleh karena itu Dia berfirman: “Dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Berdasarkan penafsiran Ibnu Katsir di atas, setidaknya dapat diambil kesimpulan jika perintah untuk senantiasa melibatkan Allah dalam berbagai urusan kehidupan merupakan keharusan dan kewajaran karena manusia merupakan makhluk yang lemah. Manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah, baik dalam hal rezeki, kesehatan, petunjuk, maupun keselamatan. Manusia membutuhkan pertolongan, rahmat, dan bimbingana dari-Nya. Setiap langkah hidup yang akan kita lakukan harus sadar bahwa tanpa izin Allah kita tidak bisa apa-apa.

Selain dalam al-Quran, perintah tentang perlunya manusia untuk melibatkan Allah dalam kehidupan sehari-hari juga ditemukan pada hadis Rasul. Suatu ketika Ibnu Abbas menceritakan tentang pengalamanya ketika dinasehati oleh Nabi dalam sebuah perjalanan. Rasul SAW bersabda:

عَنْ أَبِي العَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ: خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً فَقَالَ لِي: (( يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ: (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ ))، وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: (( اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَم يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Dalam kitab Arbai’n karya Imam An-Nawawi, inti dari hadist tersebut yaitu hendaklah manusia beramal dengan penuh ketaatan sehingga Allah tidak memandang kita sebagai orang yang menyalahi perintah-Nya. Dengan itu, kita akan mendapati Allah sebagai penolong di saat situasi yang sulit. Disamping itu, hadist ini menjadi peritntah supaya bertawakal kepada Allah, tidak bertuhan kepada selain-Nya dan tidak tidak menggantungkan nasibnya kepada siapapun baik sedikit maupun banyak.

Berdasarkan hadist yang tadi, Rasullulah memerintahkan kita agar selalu menjaga Allah. Artinya, kita harus menjaga hubungan Allah dengan cara mentaati-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Selanjutnya, kita juga diperintahkan agar selalau meminta pertolongan kepada Allah terlepas itu hal yang sepele karena Allah lah tuhan yang mengatur dunia dengan demikian, Allah akan menjaga kita dalam segala urusan fisik, hati, rezeki, dan kehidupan.

Hikmah melibatkan Allah dalam kehidupan sehari-hari

. Melibatkan Allah dalam kehidupan sehari-hari bukan sekadar beribadah pada waktu-waktu tertentu tetepi menjadikan Allah sebagai pusat dari setiap menentukan keputusan dalam kehidupan. Salah satu hikmah terbesar dari melibatkan Allah SWT adalah ketenangan batin ketika menghadapi berbagai persoalan. Manusia sering kali diliputi kekhawatiran, ketakutan, dan kebingungan menghadapi berbagai ujian hidup. Namun, ketika seseorang menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan meyakini bahwa setiap takdir telah diatur dengan bijaksana, hatinya menjadi tenteram. Kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita menumbuhkan rasa aman, karena kita tahu bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari rencana terbaik-Nya.

Saat kita mengingat dan bergantung kepada Allah, hati kita merasa aman karena kita tahu ada Zat Yang Maha Kuasa yang selalu bersama, mendengar, dan menolong kita sehingga kekhawatiran akan kehidupan menjadi lebih ringan. Lalu, saat kita melibatkan Allah dalam kehidupan sehari-hari, kita belajar untuk bertawakal, tidak cemas akan hasil akhir, dan bersyukur atas segala keadaan baik senang maupun susah. Selain itu, kita tidak akan merasa sendirian terutama saat menghadapi masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan sendiri karena kita yakin bahwa Allah pasti akan memberi jalan keluar masalahnya.

Ketika seseorang melibatkan Allah dalam setiap perbuatannya, niatnya akan selalu diarahkan untuk mencari ridha-Nya, bukan sekadar pujian manusia. Ini menumbuhkan keikhlasan, melakukan sesuatu karena Allah semata. Dengan keikhlasan, amal yang kecil pun memiliki nilai besar di sisi-Nya. Seseorang tidak lagi terikat pada pandangan manusia, melainkan hanya berharap agar amalnya diterima di sisi Allah. Dengan demikian seseorang yang melibatkan Allah dalam kehidupanya akan menuntun kepada keihklasan.

Scroll to Top