Mashadir Al-Ma’rifah (Sumber Pengetahuan)

Menganggap bahwa ilmu hanya didapat melalui panca indra, sehingga yang disebut ilmiah adalah hanya yang dapat diindra, adalah bentuk kemunduran peradaban manusia. Menjatuhkan martabat mulia manusia kepada level hewan yang hina. Bahkan lebih hina daripada hewan. Karena kalau hanya berpaku kepada panca indra, apa bedanya dengan hewan? Hewan pun bisa melihat, mendengar, meraba, menghirup dan mengecap.

Justru kemuliaan manusia terletak pada anugerah akal yang diberikan. Inilah yang membedakan dan menjadikannya istimewa dibanding hewan dan makhluk lainnya. Apa-apa yang tidak dapat diindra oleh manusia, dapat dijangkau melalui akal. Dengan memfungsikan akal, menggunakannya untuk berpikir dengan cara yang benar, maka manusia akan sampai kepada pengetahuan yang dapat diyakini kebenarannya. Bahkan, informasi-informasi yang didapat melalui panca indra, perlu terlebih dahulu diolah oleh akal, untuk menjadi ilmu yang benar. Ketika melakukan eksperimen, tentu tidak bisa sebatas menggunakan indra, tetapi membutuhkan akal untuk menerapkan serangkaian teori, mengolahnya hingga melahirkan kesimpulan.

Hal itu karena kemampuan panca indra itu sangat-sangat terbatas. Ada fakta-fakta yang tidak dapat ditangkap secara benar oleh indra. Misalnya matahari yang terlihat lebih kecil daripada bangunan dan gunung, apakah ini sesuai faktanya? Tentu tidak. Pulpen yang terlihat pecah di dalam air, padahal faktanya tidak. Orang yang sedang sakit merasakan yang manis menjadi pahit. Yang sudah tua mengalami pengurangan dalam penglihatan dan pendengaran sehingga bisa salah lihat dan salah dengar.

Indra khususnya pendengaran dan penglihatan, dan juga akal -dengan hati yang terhubung dengannya-, adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Bukan hanya sebatas digunakan untuk mengerti dan menghimpun informasi yang ada di alam ini. Dan itupun karena keluasannya, kita tidak akan mampu menguasainya. Tetapi lebih jauh dari itu, yaitu memahami alam ini sebagai tanda (‘alamah) akan keberadaan Allah Sang Pencipta, keesaan dan kekuasaan-Nya. Melakukan pengamatan di alam ini untuk sampai kepada mengenal Allah dan beriman kepada-Nya.

Allah SWT berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra : 36).

Namun jika kita tidak menggunakan sesuai fungsinya, kita akan jatuh seperti binatang, bahkan lebih hina lagi.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf : 179).

Untuk meraih ilmu-ilmu yang bermanfaat, bahkan sebanyak-banyaknya, tidak mungkin kita menggunakan panca indra dan akal kita secara sendiri. Kalau semua ilmu harus melalui panca indra dan pemikiran akal kita sendiri untuk kita terima, tentu kita tidak akan mendapatkan ilmu apa-apa, atau sangat terbatas sekali. Untuk itu kita membutuhkan informasi dari orang lain yang telah melakukan penelitian dengan panca indra dan akal mereka. Dan orang-orang yang menyampaikan informasi tersebut haruslah dapat dipercaya sehingga jiwa kita dapat menerima dan meyakininya. Inilah yang disebut dengan khabar shadiq atau naql/periwayatan.

Sehingga, sumber atau saluran ilmu pengetahuan itu ada tiga: panca indra, akal dan periwayatan.

Inilah tiga sumber ilmu dalam Islam. Ketiganya saling melengkapi, satu kesatuan yang utuh, dan tidak saling bertentangan.

Kita bisa menerima ilmu wahyu; Al-Qur’an dan Sunnah adalah melalui periwayatan. Orang-orang yang menyampaikannya dari zaman ke zaman telah diuji kredibilitas dan kapabilitasnya. Bahkan ada yang sampai kepada derajat mutawatir; diriwayatkan oleh banyak orang dari generasi ke generasi yang tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta. Sehingga menjadi satu disiplin ilmu dalam hadits untuk menguji keabsahan suatu hadits dari Rasulullah saw.

Ketika kita menerima ilmu melalui periwayatan, tetap saja kita melibatkan panca indra untuk menyerap informasi yang disampaikan dan akal untuk memahaminya. Dan Rasulullah saw sebagai orang yang menerima wahyu secara langsung, telah dibuktikan keamanahan dan kemuliaan akhlaqnya, yang tidak mungkin untuk berdusta, serta telah diperkuat dengan mukjizat-mukjizat. Dan tentu beliau pun menggunakan indra dan akal ketika menerima wahyu tersebut. Beliau mendengar langsung wahyu yang disampaikan, terkadang diperlihatkan kepada beliau wujud asli malaikat Jibril, serta disingkapkan hal-hal yang ghaib kepada beliau seperti surga dan neraka. Dan menggunakan akal untuk memahami wahyu tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan :

إن الخبر أيضًا لا يفيد إلا مع الحس أو العقل، فإن المُخبر عنه إن كان قد شوهد، كان قد علم بالحس، وإن لم يكن شوهد فلابد أن يكون شوهد ما يشبهه من بعض الوجوه، وإلا لم يعلم بالخبر شىء، فلا يفيد الخبر إلا بعد الحس والعقل، فكما أن العقل بعد الحس فالخبر بعد العقل والحس، فالإخبار يتضمن هذا وهذا.

“Sesungguhnya khobar juga tidak memberi faidah kecuali bersama dengan indra atau akal. Karena yang dikabarkan itu jika ia telah disaksikan, berarti ia telah diketahui melalui indra. Jika tidak disaksikan, maka mesti disaksikan yang semisal denganya pada sebagian bentuknya. Dan jika tidak, maka tidak ada yang diketahui dari khobar tersebut sedikitpun. Maka khobar tidak memberi faidah kecuali setelah melalui indra dan akal. Maka sebagaimana akal setelah indra, maka khobar setelah akal dan indra. Maka khobar itu mengandung akal dan indra sekaligus.” (Dar’u Ta’arudh Al-Aql wan Naql, 7/324).

Hal itu menunjukkan bahwa ilmu-ilmu dalam Islam ini jelas berpijak kepada metode ilmiah. Tidak bisa dikatakan sebagai dogma yang dipaksakan untuk dipercayai. Tetapi telah melalui serangkaian pengujian ilmiah. Iman dan ilmu dalam Islam itu satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, tidak bertentangan satu sama lain.

Metode “Barat” dan para pengekornya, yang membatasi saluran ilmu hanya pada indra atau dengan akal, dan tidak menerima melalui periwayatan, sebenarnya mereka lakukan untuk menolak kebenaran dan hal-hal yang berkaitan dengan agama semata, khususnya Islam. Sedangkan pada ilmu-ilmu lainnya, dalam realitasnya yang mereka lakukan, tetap saja menggunakan sumber periwayatan tadi. Mereka menerima begitu saja ilmu-ilmu yang disampaikan oleh guru-guru mereka atau melalui buku-buku yang mereka baca dari orang-orang yang mereka anggap pakar yang mereka percayai, tanpa secara langsung mengamatinya melalui indra mereka, dan tanpa melalui pengolahan akal pikiran mereka secara mandiri. Karena, sebagaimana telah dijelaskan, tidak mungkin manusia dapat meraup banyak ilmu hanya dengan indra dan akal pikiran sendiri. Ini jelas merupakan ilmu yang didapat melalui sumber periwayatan. Dan jelas menunjukkan ketidak-konsisten-an dan kontradiktif pada metode yang mereka gunakan dengan yang mereka jalani pada faktanya.

Sangat rendah sekali kualitas manusia ketika meyakini sesuatu yang ada mesti dapat diindra secara langsung. Banyak hal di dunia ini yang diyakini keberadaannya tanpa mesti dapat diindra, misalnya akal dan ruh. Apakah itu dapat diindra? Tapi mengapa anda meyakini keberadaannya? Maka begitu pula keberadaan Allah Sang Pencipta. Tidak perlu dan tidak akan mampu kita mengindra-Nya, cukuplah melalui tanda-tandanya saja kita dapat meyakini keberadaan-Nya.

Seperti adanya kotoran unta menunjukkan adanya unta meski kita tidak secara langsung melihat unta, jejak kaki menunjukkan adanya pejalan kaki atau rombongan yang melintas. Logika seperti ini sangat mudah dipahami, bahkan oleh orang paling awam yang tinggal di gurun pasir, jauh dari kemewahan peradaban.

Sebagaimana perkataan seorang Arab baduy ketika ia ditanya, “Apa bukti atas keberadaan Allah ta’ala?” Ia berkata :

يَا سُبْحَانَ اللهِ، إِنَّ الْبَعْرَةَ لَتَدُلُّ عَلَى الْبَعِيْرِ، وَإِنَّ أَثَرَ الْأَقْدَامِ لَتَدُلُّ عَلَى الْمَسِيْرِ، فَسَمَاءٌ ذَاتُ أَبْرَاجٍ، وَأَرْضٌ ذَاتُ فِجَاجٍ، وَبِحَارٌ ذَاتُ أَمْوَاجٍ، أَلَا تَدُلُّ عَلَى وُجُوْدِ اللَّطِيْفِ الْخَبِيْرِ؟

“Wahai, Subhanallah! Sesungguhnya kotoran unta itu benar-benar menunjukkan adanya unta, telapak kaki benar-benar menunjukkan adanya perjalanan, maka langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki jalan-jalan yang luas, dan lautan yang memiliki ombak, tidakkah itu menunjukkan adanya Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui?” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/92).

Wallahul Muwaffiq.

Scroll to Top